Medan Tegak Lurus Menjadi Faktor Utama Tantangan Berat Evakuasi dan Pemadaman Karhutla di Gunung Latimojong Kabupaten Enrekang
--
NANAPULSE – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Latimojong, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, menyingkap tabir betapa sulitnya penanggulangan bencana di wilayah dataran tinggi. Sebagai gunung tertinggi di Pulau Sulawesi dengan puncak legendarisnya Rante Mario, Latimojong memiliki karakteristik geografis yang sangat ekstrem.
Ketika api mulai merambat dan melahap vegetasi kering di sepanjang jalur pendakian, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, serta relawan pencinta alam langsung dihadapkan pada skenario penyelamatan dan pemadaman yang menguji batas kemampuan fisik serta logistik.
Baca juga: Link Download Video Nurma HMT Full Durasi HD No Sensor, Isinya Dijamin Bikin Jantungan!
1. Medan Tegak Lurus dan Keterbatasan Akses Geografis
Tantangan paling utama dalam operasi pemadaman di Gunung Latimojong adalah topografinya yang didominasi oleh tebing curam dan jalur pendakian yang tegak lurus. Berbeda dengan kebakaran lahan datar yang bisa dijangkau oleh mobil tangki pemadam kebakaran, titik api di Latimojong berada di kawasan elevasi tinggi, khususnya di sekitar Pos 4 hingga Pos 6.
Satu-satunya cara untuk mencapai lokasi kebakaran adalah dengan berjalan kaki membelah hutan selama berjam-jam sembari menggendong perlengkapan darurat.
Kondisi ini membuat mobilisasi personel berjalan sangat lambat. Setiap petugas harus mendaki medan terjal berbatuan dalam kondisi jarak pandang yang terbatas akibat kepungan asap pekat. Selain itu, potensi batu runtuh dari tebing yang hangus terbakar menjadi ancaman konstan yang mengintai keselamatan jiwa para petugas di lapangan.
2. Kelangkaan Sumber Air di Ketinggian
Faktor operasional yang paling krusial sekaligus melemahkan adalah nihilnya pasokan air di sekitar titik api. Pada musim kemarau ekstrem, sumber-sumber air musiman di gunung mengering total. Mustahil membawa selang air sepanjang ribuan meter ke atas gunung, dan mengangkut air secara manual menggunakan jeriken ke area Pos 5 atau Pos 6 membutuhkan energi yang luar biasa besar dan tidak efisien untuk memadamkan api yang telah meluas.
Akibat kendala ini, tim gabungan terpaksa mengandalkan metode pemadaman manual secara konvensional. Petugas membuat sekat bakar (firebreak) dengan cara membersihkan serasah, daun, dan ranting kering di area tertentu guna memutus jalur bahan bakar api.
Baca juga: Rekomendasi Update Heat Stroke Chapter 40 Scan Indonesia, Berusaha Keras Untuk Merayu Taejun?
Teknik "gebyok" memukul kobaran api menggunakan ranting pohon basah juga menjadi senjata utama di garis depan. Metode manual ini memerlukan waktu lama dan tenaga ekstra, sehingga api sering kali melompati sekat akibat tiupan angin kencang sebelum berhasil dikendalikan sepenuhnya.
3. Rumitnya Proses Evakuasi Pendaki
Di tengah upaya pemadaman yang menguras tenaga, prioritas utama tetap tertuju pada keselamatan manusia. Ketika api pertama kali terdeteksi meluas, sejumlah pendaki dilaporkan masih berada di pos-pos atas menuju puncak. Proses evakuasi terhambat karena jalur turun utama via Dusun Angin-angin sudah terlanjur dikepung oleh asap tebal dan bara api yang membakar semak belukar.
Tim SAR harus bekerja cepat memetakan jalur alternatif yang lebih aman guna menuntun para pendaki turun. Proses evakuasi di bawah ancaman paparan gas monoksida dan penurunan kadar oksigen akibat pembakaran membutuhkan ketenangan luar biasa.
Beruntung, berkat kesigapan warga lokal dan pemandu lokal yang sangat menguasai medan, seluruh pendaki berhasil dievakuasi ke posko utama di kaki gunung dalam kondisi selamat, meskipun sebagian besar mengalami kelelahan ekstrem dan gangguan pernapasan ringan. Tragedi di Latimojong ini menjadi bukti nyata bahwa mengatasi karhutla di pegunungan membutuhkan kesiapan fisik, strategi matang, dan sinergi lintas sektor yang luar biasa kuat.