Kebakaran di Taman Nasional Way Kambas Sulit Dipadamkan, Lahan Gambut Simpan Api Petugas Butuh Peralatan Khusus
--
Petugas Butuh Peralatan Khusus Untuk Memadamkan Api di Lahan Gambut
Menurut Ridwan, kebutuhan peralatan tidak hanya berkaitan dengan jumlah, tetapi juga spesifikasi yang sesuai dengan kondisi lapangan. BPBD Lampung Timur masih membutuhkan selang panjang dan bercabang agar distribusi air dapat menjangkau titik api yang berjauhan. Dukungan sumber air melalui sumur bor serta helikopter atau pesawat untuk pemadaman dari udara juga diperlukan.
Baca juga: Rasanya Menjadi Berbeda! Panel Akhir Manhwa BL Yang Ilwoo and I CH. 38 Indo Scans Secara Gratis
“Kalau selang sih sudah banyak menurut saya, Bang. Cuma yang tipe selang khusus mungkin, seperti di Kalimantan,” ungkapnya.
Selain peralatan, keterbatasan personel turut memengaruhi penanganan kebakaran. Tim gabungan terdiri atas unsur TNI, Polri, polisi kehutanan, Manggala Agni, Masyarakat Mitra Polhut, dan warga setempat. Sebagian petugas harus bermalam di kawasan hutan, sehingga pergantian personel diperlukan agar mereka dapat beristirahat.
BPBD Lampung Timur juga menjadwalkan pengerahan empat personel tambahan ke kawasan Tegal Gede pada Jumat, 16 Oktober 2026. Petugas tetap disiagakan ketika ditemukan titik api baru, termasuk di wilayah Tegal Gede dan Tegal Yoso.
Berdasarkan informasi sementara BPBD, kebakaran di Resort Susukanbaru diperkirakan mencapai lebih dari 10 hektare, sedangkan di Resort PTN Cabang Dua Bungur sekitar 28 hektare. Luas kebakaran di RPTN Tuju belum diketahui karena pendataan belum selesai.
Untuk mengurangi dampak asap, BPBD membagikan masker kepada warga terdampak dengan dukungan Pemerintah Provinsi Lampung. Masker juga disediakan bagi petugas di lapangan.
Ridwan menyebut rangkaian kebakaran telah berlangsung sejak 22 Agustus 2026. Hingga pertengahan Oktober, pemadaman masih dilakukan, sementara penyebab kebakaran belum dapat dipastikan. Penyelidikan mengenai penyebab maupun dugaan kesengajaan menjadi kewenangan aparat penegak hukum.
Sebagai informasi, Karhutla merupakan akronim atau singkatan dari Kebakaran Hutan dan Lahan. Yang mana kata ini merujuk pada suatu peristiwa terbakarnya kawasan hutan, perkebunan, semak belukar, atau lahan terbuka yang tidak terkendali, baik di wilayah gambut maupun non-gambut.
Perlu diketahui bahwa karhutla terjadi akibat interaksi antara cuaca atau ekosistem dengan sumber panas, yang secara garis besar dipicu oleh dua faktor, yakni cuaca panas dan kekeringan panjang, sambaran petir, gesekan antar-pohon, atau aktivitas vulkanik.
Karhutla juga bisa disebabkan oleh aktivitas manusia seperti pembukaan lahan dengan cara membakar, pembakaran sampah sembarangan, puntung rokok yang dibuang sembarangan, serta kelalaian dalam menjaga api unggun.
Menarik bukan? Kami harap informasi yang disampaikan di atas bisa menjawab pertanyaanmu. Itulah pembahasan terkait topik yang satu ini. Jangan lupa untuk selalu belajar hal baru setiap hari ya! Terimakasih sudah membaca!