Bantahan Pemilik Kucing Leo Blok M Soal Penggunaan Obat Bius dan Pembelaannya Terhadap Tudingan Komunitas Pencinta Hewan di Indonesia
--
NANAPULSE.com - Gelombang diskusi mengenai kesejahteraan hewan (animal welfare) kembali memuncak di jagat maya Indonesia. Pusat perhatian kali ini tertuju pada Leo, seekor kucing domestik berbulu putih-oranye yang akrab dikenal publik sebagai "Kucing Mager Blok M".
Di balik penampilannya yang sering mengundang tawa dan gemas karena terlihat sangat tenang mengenakan berbagai kostum serta kacamata hitam, tersimpan sebuah kontroversi besar yang membelah opini masyarakat antara bentuk kasih sayang dan dugaan eksploitasi satwa.
Leo awalnya mendulang popularitas luar biasa setelah video-videonya saat menemani pemiliknya, seorang pengamen jalanan bernama Dewo, viral di media sosial. Kucing ini dinilai unik karena memiliki tingkat ketenangan yang tidak biasa bagi seekor felid di tengah hiruk-pikuk kawasan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Blok M, Jakarta Selatan.
Berikut adalah rangkuman dari dua sudut pandang yang memicu kontroversi ini:
- Kondisi Fisik yang Mengkhawatirkan: Para aktivis satwa dan warganet menyoroti bahwa kucing bukanlah properti hiburan. Membawa Leo ke ruang publik yang bising, panas, dan padat dalam durasi lama dinilai menyiksa fisik kucing, ditandai dengan tubuhnya yang sering tampak lemas atau kehausan.
Baca juga: Syarat Khusus Mattias untuk Layla, Baca Manhwa Cry or Better Yet, Beg Chapter 87 Bahasa Indonesia
- Tudingan Kekerasan Fisik: Di platform media sosial (seperti Threads dan X), muncul kesaksian dari beberapa pengunjung yang mengklaim pernah melihat pemilik Leo melakukan tindakan kasar (seperti memukul atau memaksa) agar Leo tetap diam dan terlihat "mager" (malas bergerak) saat mengenakan kostum atau aksesori.
- Karakter Kucing: Sang pemilik, Dewo, membantah keras tuduhan menggunakan obat bius. Ia menyatakan bahwa Leo sejak kecil sudah sering diajak keluar rumah sehingga perilakunya menjadi sangat tenang dan terbiasa dengan keramaian. Menurutnya, Leo justru akan stres jika dikurung sendirian di kamar kos.
- Faktor Ekonomi: Pemilik mengakui bahwa Leo menjadi "daya tarik utama" yang secara drastis mendongkrak pendapatan hasil mengamennya. Ia berargumen bahwa uang yang didapatkan juga digunakan kembali untuk merawat dan membelikan kebutuhan Leo.
Baca juga: Heboh! Akun Dontpanic Diburu Polisi Viral, Usai Diduga Tawarkan Jasa Aborsi
Di sisi lain, sang pemilik memberikan pembelaan yang bertolak belakang. Dewo secara konsisten membantah tudingan miring netizen yang menyebut dirinya memberikan obat tidur atau obat bius kepada Leo agar terlihat lemas dan penurut.
Ia menegaskan bahwa sifat "mager" Leo terbentuk secara alami karena kucing tersebut sudah dibiasakan beraktivitas di luar ruangan sejak masih kecil. Pemiliknya mengklaim bahwa hubungan mereka didasari atas ikatan batin yang kuat, dan Leo justru akan mengalami stres berat atau terus mengeong jika ditinggal sendirian di dalam kamar kos yang sempit.
Baca juga: Profil dan Biodata Amanda Rigby, Aktris Cantik yang Dikabarkan Segera Menikah dengan Andre Taulany
Selain isu kekerasan, aspek ekonomi juga menjadi sumbu utama kontroversi ini. Kehadiran Leo di jalanan diakui menjadi magnet finansial yang luar biasa. Sang pemilik bahkan memfasilitasi sumbangan penonton menggunakan papan kode QRIS. Hal inilah yang memicu kritik tajam bahwa hak hidup layak bagi Leo telah dikorbankan demi kepentingan komersial pribadi.
Hingga saat ini, desakan agar lembaga penyelamat satwa (animal rescue) bersama dinas terkait melakukan intervensi dan pemeriksaan kesehatan menyeluruh terhadap Leo terus menguat.
Kasus Kucing Leo ini menjadi refleksi penting bagi masyarakat urban mengenai batasan etis dalam memperlakukan hewan peliharaan, serta bagaimana ruang publik seharusnya ramah dan aman bagi kelangsungan hidup satwa tanpa harus mengeksploitasinya demi keuntungan rupiah.