Polemik Fashion Show Waria di Makassar: Antara Hiburan Privat dan Batasan Norma yang Menghebohkan Jagat Media Sosia
--
NANAPULSE.com - Jagat media sosial belakangan ini dihebohkan oleh unggahan video yang memperlihatkan aksi sejumlah wanita pria (waria) berlenggak-lenggok memperagakan busana layaknya model profesional. Berikut merupakan informasi selengkapnya
Peristiwa yang terjadi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan ini mendadak viral dan memancing gelombang pro dan kontra dari netizen serta berbagai lapisan masyarakat. Polemik ini meluas karena dikaitkan dengan sensitivitas isu normalisasi gerakan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di tengah kota yang memegang teguh adat ketimuran.
Baca juga: Spoiler Manhwa Obsession Series Chapter 12 Bahasa Indonesia, Kedekatan yang Makin Intens
Berikut adalah fakta-fakta terkait peristiwa tersebut:
1. Digelar dalam Acara Ulang Tahun Selebgram
Kegiatan fashion show tersebut merupakan bagian dari perayaan pesta ulang tahun seorang selebgram kecantikan lokal asal Makassar bernama Karaeng Wawangs. Acara ini diselenggarakan di salah satu tempat di kawasan Metro Tanjung Bunga, Kota Makassar.
2. Klarifikasi Penyelenggara (Karaeng Wawangs)
Menanggapi kehebohan yang terjadi, Karaeng Wawangs memberikan klarifikasi resmi melalui akun media sosial pribadinya:
- Acara Bersifat Privat: Ia menegaskan bahwa acara tersebut adalah private birthday party yang digelar secara tertutup dan hanya diperuntukkan bagi keluarga, sahabat, relasi bisnis, sesama influencer, serta kerabat dekat.
- Bukan Kampanye LGBT: Ia membantah keras tuduhan bahwa acara tersebut merupakan bentuk normalisasi atau kampanye gerakan LGBT.
- Murni Hiburan & Apresiasi: Kegiatan fashion show tersebut diklaim murni sebagai hiburan internal berupa penilaian kostum terbaik (best costume) bagi para tamu undangan yang hadir, tanpa ada maksud atau simbol agenda tertentu.
3. Ditelusuri oleh Kesbangpol Makassar
Pemerintah Kota Makassar melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Makassar turun tangan untuk mendalami peristiwa ini. Kepala Kesbangpol Makassar, Fathur Rahim, menyatakan pihaknya tengah mengumpulkan informasi detail terkait waktu pelaksanaan, lokasi pasti, serta izin pelaporan kegiatan tersebut.
4. Menuai Kritik dari Ormas dan Warganet
Acara ini memicu pro dan kontra yang cukup besar. Salah satunya disoroti oleh Pemuda Muhammadiyah Makassar yang menilai kegiatan tersebut sensitif dan bertolak belakang dengan nilai budaya, adat, serta norma sosial masyarakat Makassar yang dikenal sebagai Kota Daeng.
Baca juga: Joomi Kena Hukuman! Baca Manhwa Absolute Threshold Chapter 105 Bahasa Indonesia
Warganet di berbagai platform media sosial seperti Instagram juga ramai memberikan kecaman karena khawatir acara privat tersebut menjadi panggung penyelewengan identitas gender.
Kasus ini menjadi cerminan nyata dari benturan budaya di era digital. Di satu sisi, individu menuntut ruang ekspresi privat yang bebas dari intervensi luar. Namun di sisi lain, masyarakat mengingatkan bahwa jejak digital dan pengaruh figur publik di media sosial tetap harus selaras dengan nilai-nilai komunal serta hukum adat setempat demi menjaga keharmonisan kota.