Profil dan Latar Belakang Louice Cristiana, Mitra SPPG Makale Batupapan 1 yang Viral Usai Kritik Siswa Penerima MBG
--
NANAPULSE – Nama Louice Cristiana Mangontan saat ini menjadi perhatian usai pernyataannya dalam rapat dengar pendapat (RDP) DPRD Tana Toraja perihal dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) viral di media sosial.
Louice atau yang akrab disapa dengan nama Lusi adalah salah satu mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makale Batupapan 1. Pada RDP yang berlangsung pada Jumat 4 September 2026 lalu ia mempertanyakan alasan sejumlah siswa tetap menyantap makanan MBG meski sebelumnya disebut sudah mengetahui adanya bau tidak sedap.
Dalam video yang tersebar di media sosial, Lusi menyebut dirinya memperoleh informasi bahwa beberapa siswa sempat mengeluhkan aroma makanan sebelum dugaan keracunan terjadi. “Ada eh berbagai informasi yang katanya mau makan sudah bau busuk,” kata Lusi.
Pernyataan tersebut lantas dilanjutkan dengan pertanyaan terkait keputusan siswa yang tetap mengonsumsi makanan tersebut. “Kalau tahu sudah bau, kenapa tetap dimakan, tabe?” ungkap Lusi seraya menepuk meja ruang sidang paripurna DPRD Tana Toraja.
Pernyataan Lusi tersebut menimbulkan banyak sorotan. Sejumlah warganet mengkritik pernyataannya sebab dianggap menyalahkan siswa yang menjadi korban dalam kasus dugaan keracunan MBG. Pada kejadian tersebut, sekitar 156 hingga 165 siswa serta guru dilaporkan mengalami sejumlah keluhan kesehatan.
Para korban sempat mendapat penanganan di tiga fasilitas kesehatan, yakni RSUD Lakipadada, RS Sinar Kasih, dan RS Fatima. Gejala yang dilaporkan antara lain mual, pusing, dan muntah.
Louice Cristiana Mangontan diketahui adalah Ketua Yayasan Magnolia Champaca Virginiana. Yayasan tersebut menjadi mitra SPPG Makale Batupapan 1 dalam pelaksanaan program MBG. Nama yayasan yang dipimpin Lusi juga sempat muncul dalam kebijakan penghentian sementara sejumlah dapur MBG di Sulawesi Selatan.
Pada April 2026, SPPG Makale Batupapan yang berada di bawah yayasan tersebut masuk dalam 136 dapur MBG di Sulawesi Selatan yang dihentikan sementara oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Kebijakan tersebut memiliki keterkaitan dengan pemenuhan sejumlah standar penyelenggaraan, termasuk Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) serta Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Lusi juga SPPG yang dikelola yayasannya kembali jadi sorotan usai diadakannya Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD Tana Toraja pada Jumat, 4 September 2026. Rapat tersebut membahas dugaan keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa sekitar 156 hingga 165 siswa dan guru.
Para korban sempat dilarahkan ke tiga rumah sakit (RSUD Lakipadada, RS Sinar Kasih, dan RS Fatima) karena gejala mual, pusing, dan muntah.
Cara utama untuk menghindari makanan basi adalah dengan mengontrol kebersihan, suhu penyimpanan, dan kadar air guna mencegah pertumbuhan bakteri pembusuk. Makanan yang dibiarkan di suhu ruangan lebih dari dua jam sangat rentan terkontaminasi dan memicu keracunan.
Dalam beberapa waktu terakhir, terjadi lonjakan laporan keracunan makanan setelah anak-anak mengonsumsi menu MBG. Berdasarkan data dari BPOM, Komnas HAM, dan Kemenkes, total korban keracunan sejak program ini diluncurkan hingga awal September 2026 dilaporkan telah menembus lebih dari 43.000 anak di 36 provinsi.